Rabu, 13 Mei 2015

Ini Manfaat Karyawan yang Punya BPJS Kesehatan Plus Asuransi Swasta

Jakarta -Belum semua rumah sakit di Indonesia menjalin kerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun, untuk peserta BPJS kesehatan yang masuk kategori penerima upah (karyawan/pegawai) bisa menggunakan layanan BPJS di rumah sakit yang belum kerjasama dengan BPJS. Ketua Jaminan Sosial Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Timoer Sutanto mengatakan, saat ini ada 1.700 rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS kesehatan. Dengan begitu, para peserta BPJS bisa menggunakan fasilitasnya di rumah sakit tersebut. "Yang ikut itu kebanyakan tipe C, dan D rumah sakit yang fasilitasnya rendah. Ada juga tipe A atau B yang milik pemerintah," kata Timoer kepada detikFinance, Rabu (13/5/2015) Timoer mengatakan, masih ada sekitar 789 rumah sakit yang belum bekerjasama dengan BPJS kesehatan. Kebanyakan rumah sakit tersebut adalah rumah sakit kelas atas atau tipe A dan B. Awalnya, pihak rumah sakit kelas A dan B yang kebanyakan milik swasta tidak mau menerima pasien dengan BPJS. Namun, dikatakan Timoer, dengan skema coordinating of benefit (COB) atau koordinasi manfaat, para pekerja penerima upah (PPU) bisa menggunakan fasilitas BPJS di rumah sakit yang tidak bekerjasama dengan BPJS kesehatan. ‎"Grade A itu pasti rumah sakit mewah, tapi ditampung dengan COB," katanya. Salah satu aspek COB adalah pekerja yang menggunakan dua asuransi yakni BPJS juga asuransi swasta. Saat plafon biaya di BPJS-nya tidak mencukupi biaya pengobatan pekerja, maka sisanya akan ditanggung oleh asuransi swasta miliknya. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani menuturkan, dengan koordinasi manfaat pekerja bisa mendapatkan poliklinik khusus atau poliklinik eksekutif sehingga tak disatukan dengan peserta BPJS penerima bantuan iuran (PBI) yang merupakan kalangan yang dibantu pemerintah. Namun hal tersebut masih dalam pembahasan dengan Kementerian Kesehatan. ‎"Insya Allah semua rumah sakit bisa (pakai BPJS)," kata Haryadi. Koordinasi manfaat penerima BPJS yang juga terdaftar dalam asuransi swasta yang didaftarkan oleh perusahaan. Jika tidak ada ketentuan mengenai hal ini, dikhawatirkan pelayanan dengan asuransi BPJS akan lebih buruk dibanding dengan asuransi swasta yang juga dimiliki seorang karyawan. Di sisi lain, keduanya harus dibayarkan. Menurut Haryadi, persoalan ini sudah selesai, dan disepakati adanya koordinasi manfaat. Jadi, nantinya pengguna BPJS kesehatan yang klaimnya sudah menyentuh batas, maka akan diambil alih oleh asuransi swasta. Sesuai dengan peraturan perundangan bahwa untuk Pekerja Penerima Upah (PPU) dari BUMN, BUMD, Badan Usaha skala besar, sedang mapun kecil wajib mendaftarkan pegawainya paling lambat sebelum 1 Januari 2015. Bagi masyarakat yang merupakan Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja paling lambat adalah 1 Januari 2019. Iuran Jaminan Kesehatan bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang terdiri atas Pegawai Negeri Sipil, Anggota TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara, dan Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri yang dibayar melalui APBN/APBD sebesar 5% (lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan dibayar dengan ketentuan 3% (tiga persen) dibayar oleh Pemberi Kerja dan 2% (dua persen) dibayar oleh Peserta. Iuran Jaminan Kesehatan bagi Peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) selain Peserta diatas adalah sebesar 4,5% (mulai tanggal 1 Juli 2015 sebesar 5%) dari Gaji atau Upah per bulan dengan ketentuan, 4% dibayar oleh Pemberi Kerja, 0,5% dibayar oleh Peserta (mulai tanggal 1 Juli 2015 sebesar 1%) sumber : http://finance.detik.com/read/2015/05/13/204352/2914704/4/ini-manfaat-karyawan-yang-punya-bpjs-kesehatan-plus-asuransi-swasta?991104topnews

Selasa, 17 Februari 2015

Tantangan Asuransi Swasta Vs Pemerintah

Sejak Pemerintah mengeluarkan Undang-undang kesejahteraan Sosial (KJS), lalu mengeluarkan produknya berupa BPJS - KIS . Sepertinya Asuransi Swasta Asing dan dalam negeri, seperti menerima 'gong kematian' . Awalnya banyak para penjual Asuransi (agen) mengamini kejadian itu. namun sejak mulai bergulir 3 tahun terakhir ini memang terjadi 'saringan' pengguna BPJS dan pengguna Asuransi Asing, adlaah sesuatu yang tidak perlu dijadikan saingan, karena itu seperti kita memasuki kehidupan sehari-hari, bahwa ada BIAYA ada Kualitas/ Pelayanan. jadi pemilikan Asuransi baik itu BPJS maupun milik Swasta, tentu punya 'kelas-kelas'/ penggemar sendiri-sendiri, disesuaikan kenyamanan dan kepercayaan para Nasabah (pengguna Asuransi). itu seperti kita memiliki keseharian ke Sekolah, kuliah, memiliki Mobil, bekerja, semua 'terserap' baik dengan biaya 'minim' maupun biaya 'wah' kesemuanya itu dibanding dengan HARGA Vs Kualitas pelayanan. Yang menjadi perhatian para operator Asuransi bahwa dengan Biaya yang sudah di berikan Nasabah, mereka harus melayani sebaik-baiknya. Dan saat ini sebagai masyarakat moderen, HARUS memiliki Asuransi.

Kamis, 20 November 2014

BPJS - KIS - Asuransi Allianz

Setelah Pemerintahan baru Presiden Jokowi, kembali hadir Fasilitas Kartu Kesehatan untuk masyarakat, namanya Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang memiliki segmen bagi masyarakat Miskin dan hampir miskin, dengan manfaat yang didapat secara cuma-cuma akibat pengalihan subsidi BBM. Setelah sebelumnya BPJS hadir awal 2014, sama sperti manfaat Asuransi, bahwa BPJS ini bisa disebut sebagai Asuransi Pemerintah, artinya pembayarannya dilakukan secara reguler bulanan, dan manfaat pengobatannya saat ini masih terbatas di Rumah Sakit Umum Daerah - Pemerintah, setelah terlebih dahulu dapat rekomendasi dari Puskesmas. Sedangkan Asuransi Allianz (Kesehatan), adalah versi swasta, yang bisa mendapat perawatan dari RSUD - Pemerintah - Swasta dalam dan luar negeri. dengan manfaat tambahan : santunan penyakit kritis ; santuan cacat tubuh ; santunan ahli waris ; nilai tabungan BPJS - KIS - Asuransi Allianz, anda sendirilah yang menentukan apa yang ingin anda miliki bagi anda dan keluarga

Rabu, 01 Oktober 2014

BPJS atau Asuransi Kesehatan (ALLIANZ) ...

BPJS atau Asuransi Kesehatan Pilih yang mana? Kita rekap dulu bagaimana masing – masing pilihan ini. BPJS: Jaminan kesehatan ini punya keunggulan iuran murah dengan manfaat lengkap yang tanpa pre-exisiting condition, tanpa medical check-up dan tidak ada batasan plafond. Tanpa plafond, essentially, semua tagihan rumah sakit akan dicover oleh BPJS selama mengikuti prosedur dan kelas kamar. Sejumlah keunggulan ini yang sulit didapatkan di asuransi kesehatan swasta, yang preminya lebih mahal, manfaat terbatas hanya rawat inap dan ada batasan plafond. Namun, tantangannya di BPJS adalah proses berbelit, antrian panjang dan terbatasnya pilihan rumah sakit. Proses di BPJS masih jauh dari convenience buat peserta. Asuransi Kesehatan: Asuransi unggul dalam hal kecepatan, kemudahan dan fleksibilitas memilih rumah sakit. Pengobatan di semua rumah sakit pada dasarnya diterima oleh asuransi, baik itu yang kerjasama (cashless) dan tidak kerjasama (reimbursement). Kekurangannya, manfaat lebih terbatas (tidak ada rawat jalan, kehamilan, gigi dan optik), larangan pre-exisiting condition jika punya penyakit bawaan (terutama usia – usia tua), premi mahal dan ada plafond yang bisa membuat tagihan tidak semua dibayar (jika melebihi plafond), terutama pengobatan yang biayanya mahal (yang justru jadi alasan kenapa kita membeli asuransi in the 1st place). Ringkasan secara umum bisa dilihat dalam tabel dibawah ini: BPJS Kesehatan Setelah melihat perbandingan ini, kita melihat bahwa BPJS dan asuransi kesehatan memiliki kelebihan sendiri. Keduanya sebenarnya saling melengkapi. Bukan saling ‘mematikan’. Saya menyarankan prioritas pilihan sebagai berikut: Prioritas 1. BPJS + Asuransi Kesehatan. Jika tidak ada kendala keuangan, idealnya punya BPJS dan Asuransi Kesehatan. Keduanya saling melengkapi. Jika opsi ini dipilih, pastikan ambil asuransi yang bisa double – claim, supaya tagihan bisa diklaim di keduanya. Prioritas 2. Asuransi Kesehatan. Buat saya, kecepatan, kemudahan dan fleksibilitas itu yang utama dalam proses berobat. Keterbatasan pilihan rumah sakit merupakan kendala serius buat saya karena pindah dokter tidak semudah pindah bengkel atau pindah toko. Makanya, asuransi kesehatan lebih saya pilih. Tapi ini penilaian subjektif. Anda mungkin punya pertimbangan lain yang berbeda. Prioritas 3. BPJS. Jika budgetnya terbatas, karena premi asuransi kesehatan yang mahal, BPJS adalah pilihannya. Memiliki jaminan kesehatan adalah hal wajib karena biaya berobat yang mahal dan semakin mahal. Harapannya proses di BPJS bisa semakin baik, sehingga kualitas dan coverage rumah sakitnya bisa sebaik asuransi kesehatan. - See more at: http://www.duwitmu.com/bpjs-dan-asuransi-kesehatan-swasta-siapa-yang-terbaik/#sthash.iMWNIYEr.dpuf

Minggu, 13 Juli 2014

Tips Seru Mengajarkan Anak Berpuasa dan Peran Asuransi Kesehatan yang Melindunginya

Pada usia berapakah idealnya si kecil diajarkan untuk berpuasa? Dan mengapa asuransi kesehatan begitu penting serta seharusnya wajib dimiliki oleh anak-anak? Simak artikel berikut ini :) Babies and Kids: Tips Seru Mengajarkan Anak Berpuasa dan Peran Asuransi Kesehatan yang Melindunginya #KidsPamperingTips Asuransi kesehatan merupakan salah satu produk proteksi yang seharusnya wajib dimiliki setiap orang, terutama anak-anak. Bukan tidak mungkin, disaat si kecil sedang semangat belajar puasa, namun daya tahan tubuhnya belum terlalu kuat untuk melawan penyakit, maka kemungkinan untuk si kecil sakit saat menjalani belajar puasa juga besar. Oleh karena itu simak tips seru mengajarkan anak berpuasa dan betapa pentingnya memiliki asuransi kesehatan untuk memastikan si kecil langsung mendapatkan pelayanan kesehatan jika ia jatuh sakit tanpa menganggu anggaran dana bulan Ramadhan. Dimulai dengan penjelasan mengenai pentingnya memiliki asuransi kesehatan berikut ini. Manfaat asuransi kesehatan sangat terasa bila suatu saat tanpa diduga kita atau anak kita mengalami gangguan kesehatan yang pengobatannya memerlukan biaya besar. Saat itulah kita akan merasakan bahwa nilai pertanggungan yang akan kita terima dari perusahaan asuransi jauh lebih besar bila dibandingkan dengan nilai premi yang sudah dibayarkan. Jumlah premi yang wajib dibayarkan dan besarnya nilai pertanggungan tergantung kepada program asuransi kesehatan yang kita pilih. Masing-masing perusahaan asuransi memiliki jenis program dan premi yang berbeda dengan rincian manfaat yang berbeda pula. Tentu saja perusahaan asuransi akan membatasi limit biaya yang bisa digunakan per-tahun. Beruntunglah jika kita atau anak kita masih dalam kondisi sehat wal afiat. Sebab, kesehatan adalah “harta karun” yang tak ternilai harganya. Jauh lebih berharga dari harta dalam bentuk materi. Jika kita sakit, bukankah harta dalam bentuk materi yang akan dipakai untuk membiayai semua pengobatan sampai kita sembuh dan sehat seperti sedia kala? Itu kalau kita masih memiliki harta dalam bentuk materi dan jika kita masih memiliki kekayaan. Bagaimana jika tidak ? Karena itu, sedia payung sebelum hujan. Peribahasa itu menggambarkan betapa arif dan bijaknya bila kita mau mempersiapkan diri disaat sehat sebelum masa-masa sakit itu datang. Bersiap dengan asuransi kesehatan ibarat merajut payung kecil yang akan menjadi pelindung kita saat sakit di kemudian hari. Disinilah makna manfaat asuransi kesehatan bagi kita yang sebenarnya. Selain memiliki proteksi, untuk menjaga kesehatan anak saat bulan Ramadhan tentunya, sebagai orangtua kita juga harus mengajarkan, cara terbaik agar anak dapat menjalani puasa nya dengan optimal, tanpa harus membuat daya tahan tubuhnya turun, berikut ini penjelasannya. Bebeapa anak memang berbeda kemampuan berpuasanya, walaupun usianya sama. Untuk itu janganlah Anda menyamakan anak yang belum mampu berpuasa secara penuh dengan anak seumurannya yang sudah mampu berpuasa secara penuh. Dan satu hal yang harus di ingat, jangan memaksa anak untuk berpuasa. Jika Anda mengalami kesulitan melatih anak berpuasa, berikut ini tips yang dapat di ikuti: Menyiapkan mental psikologisnya dengan cara mengenalkan suasana ramadhan sejak dini dan menceritakan mengenai apa itu puasa. Misalnya, mengajaknya sahur bersama keluarga, lalu menceritakan mengapa di sepanjang siang tidak diperbolehkan makan dan minum, dan mengajaknya sholat Tarawih. Melatih anak untuk tidak makan di saat lapar dan makan yang tidak berlebihan. Lakukan latihan berpuasa secara bertahap dan sesuai umurnya. Misalnya, anak Anda berumur lima tahun, untuk puasa pertamanya diberi batas sampai pukul 10, dan jika ia kuat, setiap harinya jam puasanya ditambahkan. Memperhatikan asupan gizi dan vitaminnya. Ingatlah jangan memberikan vitamin penambah nafsu makan ketika berpuasa. Banyak minum air putih ketika sahur. Jangan melakukan aktivitas yang menghabiskan energi. Menghabiskan waktu saat berpuasa dengan kegiatan yang bermanfaat dan tidak menguras energi tentunya. Memberikan penghargaan jika anak Anda berhasil menyelesaikan puasanya dalam sehari. Misalnya dengan membuatkan makanan kesukaannya saat berbuka, dan usahakan jangan memberinya hadiah uang. Pastikan kondisi anak Anda sehat saat menjalani puasa. Jika anak mengalami keringat dingin, lemas serta muntah-muntah, jangan paksakan dia untuk melanjutkan puasanya. Nah, semoga bermanfaat ya artikel berikut ini mengenai Tips Seru Mengajarkan Anak Berpuasa dan Peran Asuransi Kesehatan yang Melindunginya. Sumber artikel: http://www.melindahospital.com/artikel/307/Mengajarkan-Anak-Berpuasa.html http://info-kesehatan.net/apa-manfaat-asuransi-kesehatan-bagi-kita/

Senin, 09 Juni 2014

FUNGSI ASURANSI YANG DATANG TAK TERDUGA

Saat mendengar bincang2 di Radio mengenai paket Wisata yang di keluarkan oleh perusahaan travel..dikatakan b ahwa Asuransi Perjalanan adalah sesuatu yang WAJIB di pakai oleh semua peserta yang mereka bawa. Padahal perjalanan yang mereka lakukan paling lama 2 minggu, bahkan ada yang hanya 5 hari, kalau ingin ‘mengurangi’ biaya perjalanan agar dapat bersaing dengan kompetitor maka bisa mengurangi jatah dari pembayaran premi ini. Tetapi pihak travel ‘tidak berani’ menghilangkan biaya premi perjalanan ini. Mereka sadar bahwa apapun bisa terjadi dalam setiap aktivitas yang dilakukan, biarpun mereka juga tidak menginginkan kejadian yang buruk. Tapi sekali kejadian REPOTTTTT nya minta ampun, yang PASTI biayanya yang mahal di Rumah Sakit Negara yang di tuju. Nah biaya klaim dari Asuransi akan sangat banyak membantu dari proses kejadian buruk yang terjadi, apalagi sampai masuk Rumah Sakit. Nah yang menjadi sorotan adalah, apakah hanya saat kita bepergian keluar negeri, setiap resiko hidup (sakit,kecelakaan) tidak bisa terjadi di negara sendiri? Tentu tidak ..kita ‘menyadarinya’ tetapi banyak yang secara ‘sadar’ melihatnya tidak penting saat ini..karena situasi hidup saya ‘baik-baik’ saja.. Tiga hari yang lalu saya di hubungi Nasabah saya yang sudah 4 (empat) tahun ambil asuransi kesehatan akibat Rawat Inap saja..tetapi sangat tidak ingin masuk asuransi jiwa yakni pertanggungan penyakit kritis dan akibat kematian. Lalu dia ingin memdengar penjelasan dari saya mengenai asuransi Jiwa tersebut, singkat cerita saya jelaskan secara panjang lebar (tetapi hanya lewat telepon)..akhirnya dia minta untuk dibuatkan penawaran...TAPI.....akhirnya dia mengaku bahwa 6 bulan lalu dia medical cek dan terindikasi DIABETES...makanya dia ‘siap-siap’ masuk asuransi... Secara terus terang saya katakan kepadanya bahwa SEMUA merek Asuransi sangat tidak mau menerima nasabah yang sudah terindikasi DIABETES..Tapi si nasabah ‘merengek-rengek’ ingin ikutan..yah itulah ASURANSI ..membelinya saat kita masih sehat dan merasa belum ‘membutuhkan’...tapi saat kita benar2 ingin membtuhkan karena adanya penyakit..justru si Asuransi yang tidak mau..

Minggu, 04 Mei 2014

Seberapa sadar saya pentingnya Asuransi ???

Teman Allianz yang mana? 1. Asuransi itu penting, dan Saya sudah punya --> sadar dan paham. 2. Asuransi itu penting, tapi Saya belum punya --> bingung dan galau. 3. Asuransi tidak penting, tapi Saya sudah punya --> belum paham dan terpaksa membeli karena suatu dan lain sebab. 4. Asuransi tidak penting, dan Saya tidak punya --> belum paham dan belum peduli masa depan. Nah kalau melihat posisi yang ada tentunya saya akan sangat SENANG kalau bertemu dengan posisi no.2, yang penting didalam pikirannya adalah setuju bahwa asuransi itu PENTING.. Saat mengunjungi saudara awal minggu ini mendengar bahwa suaminya (usia 40-41 tahun) sudah mengidap ‘gagal ginjal’ , dan masuk dalam proses pencakokan, tentunya mendengarnya sangat miris dan sedih..diakibatkan pengobatan yang diambil, karena tentunya aktivitas pekerjaannya sudah sangat terganggu, belum lagi masalah MENTAL/Psikis..tetapi ada yang menjadi tidak ‘hancur’ semuanya mental dan keuangan. Karena Rupanya secara Biaya mereka saat ini tidak menjadi masalah besar..selain dari tabungan mereka masih ada juga di BANTU dari Klaim Asuransi yang mereka punyai secara sadar beberapa tahun yang lalu..TENTUNYA besar kecil biaya pengobatan akan sangat ‘tidak terbatas’..karena proses pengobatannya masih terus berlangsung.. Doa kami bagi keluarga ini adalah agar segera sehat dan berhasil upaya pengobatannya.. Tetapi sekali lagi Biaya Klaim Asuransi SANGAT membantu keluarga ini, dari ‘kehancuran’ keuangan keluarga mereka.